ENJOY THE LITTLE THINGS

by - October 18, 2015

Here is one inspirational short story worth reading. Enjoy!


Kebahagiaan Ada di dalam Hal-Hal Kecil

Itu adalah salah satu hari ketika ada terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Hampir semua pekerjaan rumah tanggaku tercecer. Aku belum sempat belanja dan kami nyaris kehabisan segala sesuatu. Cucian menumpuk lebih tinggi dari permukaan keranjang dan meskipun aku memiliki standar kebersihan yang longgar, aku bisa mengatakan bahwa rumahku sangat kotor. Selain itu, ada dua artikel yang sudah mendekati tenggat waktu dan aku perlu meluangkan waktu untuk berada di depan komputer.

Semua itu, dan keempat anakku sedang libur sekolah. Mereka sangat senang berada di rumah dan berulang-ulang bertanya kepadaku bagaimana kami akan menggunakan hari libur mereka.

Mereka akan kecewa dengan rencanaku untuk hari ini. Sama sekali tidak ada yang menyenangkan dari rencana itu. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang pantas untuk mengisi hari libur.



Pagi itu anak-anak bangun, mengharapkan sarapan sereal dingin seperti biasanya. Tetapi kami kehabisan susu, dan anak-anakku tidak suka sereal kering. Tidak ada telur, tidak ada roti, dan itu mempersempit pilihan  sarapan. Aku mencari-cari di lemari pembeku, berharap menemukan sekotak wafel beku. Tidak ada. Aku melacak isi lemari pendingin, akhirnya aku menemukan sebungkus biskuit buttermilk. Aku memercikinya dengan kayumanis dan gula, memanggangnya, dan memberikannya kepada anak-anak.

"Maaf, pagi ini Mommy tidak bisa menawarkan sesuatu yang lebih baik dari ini, karena belum sempat belanja," kataku. Anak-anak tidak mau repot-repot menjawab. Mereka terlalu sibuk menyuap bolu kayumanis ciptaanku itu ke dalam mulut.



Setelah sarapan, aku mulai memasukkan sebagian cucian ke dalam mesin cuci dan duduk di depan komputer. Putri terkecilku, Julia, berjalan ke arahku, memasang wajah aku-akan-segera-merengek. "Tapi, Mommy, aku kira kita akan melakukan sesuatu yang menyenangkan hari ini," katanya. "Karena ini hari libur kami."

"Mommy tahu ini hari liburmu, tetapi  bukan hari libur Mommy," jelasku. "Ada pekerjaan yang harus diselesaikan."

"Maukah Mommy bermain denganku?" katanya memohon. "Misalnya Candy Land? Atau salon kecantikan?"

Aku menghela napas. Aku tidak punya waktu untuk bermain. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Tetapi kemudian aku punya ide. "Kau mau bermain salon kecantikan sambil Mommy bekerja?" 

Jadi, aku bisa menyelesaikan artikelku, dan kuku kakiku dicat pada saat yang bersamaan.



Putra tertuaku, Austin, menawarkan diri untuk menyiapkan makan siang agar aku bisa tetap bekerja. Adik-adiknya menyukai pilihannya. Bukan makanan sehat yang dianjurkan orang-orang, tetapi anak-anak senang dan aku bisa memenuhi tenggat waktu tulisanku.

Tidak lama setelah makan siang, kami pergi ke toko. Austin mendorong kereta belanja, sementara adik-adiknya mengumpulkan kupon dari dispenser kecil yang tersebar di seluruh toko. Aku mendapatkan apa yang kubutuhkan--tentu saja dengan beberapa tambahan dari tim belanjaku.

Kembali di rumah, anak-anak memutuskan untuk bermain "toko-tokoan" dengan kupon yang telah mereka kumpulkan. Mereka menderetkan makanan kaleng dan makanan kering di meja dapur dan berpura-pura membelinya.



Selama sisa sore, aku membersihkan rumah, melipat pakaian, dan mulai menyiapkan makan malam. Anak-anak melanjutkan permainannya sampai suamiku, Eric, pulang.

Dia melihatku dan menyeringai. "Jadi, bagaimana hari libur anak-anak hari ini?"

Aku mulai menjelaskan bahwa kami tidak melakukan sesuatu yang khusus karena aku terlalu sibuk dengan tugas-tugasku. Tetapi anak-anak memutusnya.

"Dad, Dad lihat kuku kaki Mommy? Mommy memperbolehkan aku duduk di bawah meja komputernya dan mencat kukunya sementara dia mengetik!" kata Julia. "Senang sekali!"

"Dan, Dad, hari ini kami mendapat sarapan yang paling enak," kata Austin. "Mommy pernah membuat biskuit istimewa itu untuk Dad? Enak sekali loh!"

Eric memandangku dengan heran dan aku hanya bisa mengangkat bahu. Dua anak tengahku, Jordan dan Lea, menimbrung menceritakan tentang permainan kupon dan makan siang istimewa buatan Austin. "Hari ini sangat menyenangkan, Dad! Luar biasa!"



Aku memandang wajah anak-anakku. Penuh dengan kegembiraan. Kegembiraan untuk bolu kayumanis ciptaanku, untuk makan siang yang paling tidak sehat, kupon dari toko, dan kuku kaki yang dicat.

"Kalian semua benar-benar mengalami hari yang menyenangkan? Kalian tidak kecewa karena kita tidak melakukan sesuatu yang menyenangkan?" tanyaku.

Austin mengangkat bahu dan berkata, "Hidup itu hanya sesenang kita menciptakannya, Mom."

Aku mengangguk, menyadari bahwa dia sangat benar. Kebahagiaan adalah soal sikap bukan soal situasi.



Aku memeluk anak-anakku dan berterima kasih karena mengingatkanku untuk mencari kebahagiaan dalam hal-hal kecil. 

Julia tersenyum dan berkata, "Dan hal-hal kecil yang membuat Mommy paling bahagia adalah kita, kan?"

Wow, anak-anakku memang pintar.

Diane Stark
Dikutip dari Chicken Soup for the Soul: Think Positive.



Postingan ini didedikasikan untuk semua pembaca Call Me Pinky yang saat ini sedang dilanda perasaan gundah gulana karena berbagai masalah. Kebahagiaan adalah soal sikap bukan soal situasi. Jika tidak bisa merubah situasinya, maka rubah sikapnya. Rubah sudut pandangnya. Karena sesungguhnya hidup itu hanya sesenang kita menciptakannya :)





chacha 
XO♥XO

You May Also Like

0 comment

Call Me Pinky is an online journal that shares life adventure, dream, and all other random good things. Thank you for taking your time reading this site and for leaving comments. I appreciate that a lot. xx